#Komunitas
TEMPO.CO, Jakarta - Membicarakan UFO dan makhluk luar angkasa di Indonesia memang kurang jamak. Kalau ada benda bersinar yang terbang, mungkin itu dikira leak atau santet. "Masyarakat banyak yang mengaitkan fenomena alien dengan makhluk gaib sehingga perkembangan penelitian tentang UFO di Indonesia tidak pesat," kata Ranggi Raggatha, pengurus nasional BETA-UFO, ketika ditemui di Cilandak Town Square, pertengahan April 2013.
Kondisi tersebut disetujui pula oleh Fan Fan Darmawan, anggota BETA-UFO dari Bandung. "Beragam respons yang kami terima, dari yang antusias sampai yang mencibir," ujarnya dalam surat elektroniknya. Menurut Fan Fan, beragamnya respons ini adalah dari latar belakang budaya Indonesia, yang percaya pada hal-hal magis.
BETA-UFO adalah singkatan dari Benda Terbang yang Aneh-Unidentified Flying Object. Ini adalah komunitas pengamat benda asing. Fenomena-fenomena benda asing menjadi hal yang disukai komunitas ini untuk dipelajari. BETA-UFO tidak serta-merta setuju soal keberadaan makhluk dari planet asing, tapi akan menganalisis dan mempelajarinya terlebih dulu. “Kami menganalisis, menguji, meriset, dan mendidik masyarakat,” kata Ranggi. Analisis yang mereka lakukan adalah analisis ilmiah sesuai dengan latar belakang dan pekerjaan anggotanya. Maklum, latar belakang mereka memang beragam: dari pilot, geolog, psikolog, dosen astronomi, hingga ahli forensik digital.
Salah satu hal yang mereka analisis adalah penemuan crop circle di persawahan kawasan Sleman, Yogyakarta, pada awal Januari 2011. BETA-UFO, dengan 14 tim pengurus intinya, ikut menganalisis apa yang sebenarnya terjadi pada batang-batang padi yang rebah dan membentuk lingkaran raksasa yang teratur dan estetis.
"Kami berbeda paham dengan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional)," Ranggi menambahkan. Menurut BETA-UFO, crop circle tersebut bukan buatan manusia. Karena ada unsur nikel di daerah yang tidak memiliki kandungan nikel sama sekali. Lalu padi di sekitar area pun tidak patah seperti ditimpa benda berat, melainkan rebah. "Itu biasanya disebut efek ion plasma," ujar pria 27 tahun ini. Tapi memang kesimpulan soal siapa pelakunya, itu masih misteri.
Akan tetapi apakah mereka benar-benar percaya pada keberadaan makhluk luar angkasa? “Mungkin orang awam melihat komunitas ini sangat percaya terhadap fenomena UFO, tapi justru sebagian besar anggota kami ini orang yang skeptis,” ujar Ranggi. Skeptisme itulah yang menuntun mereka untuk meneliti.
Menurut Ranggi, anggota BETA-UFO terbagi ke dalam tiga kategori. Pertama, anggota yang percaya penuh akan kehadiran UFO. Lalu, anggota yang skeptis, tidak percaya akan kehadiran UFO. Dan terakhir skepticbeliever, anggota yang skeptis, tapi cenderung percaya
akan keberadaan makhluk di luar manusia. "Tipikal anggota ketiga ini bisanya kritis dan referensi analisis cenderung ke arah mainstream science, seperti fisika atau astronomi," kata pria yang memiliki latar belakang teknik lingkungan ini.
Dengan tipikal yang berbeda-beda tersebut, saat ini komunitas yang berdiri pada 1997 itu berhasil menjaring 4.000 anggota di seluruh Indonesia dan dunia, dengan usia 13-68 tahun. Untuk bergabung cukup mudah, tinggal memilih di salah satu media ini, yaitu Facebook BETA-UFO, atau milis This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. atau Twitter @betaufo. Tercatat ada 17 regional dan tiga perwakilan komunitas di Singapura, Amsterdam, serta Amerika. "Kami ini komunitas pengamat UFO yang tertua, terbesar, dan mengamati fenomena ini dengan paling serius," ujar Ranggi.
Untuk kawasan Jabodetabek, aktivitas yang rutin mereka lakukan adalah pertemuan dan diskusi bulanan. "Kalau yang nasional sih setahun sekali," ujar Ranggi. Lalu jika ada laporan fenomena UFO, BETA-UFO pun siap menganalisis. "Kami punya alat untuk menilai apakah penculikan oleh makhluk luar angkasa yang dialami seseorang itu benar apa enggak," katanya. Sebab, banyak juga yang mencari sensasi dengan memanfaatkan teknologi kamera teranyar.
Salah satu metode dalam Ufologi (ilmu yang mempelajari tentang UFO) yang masih diperdebatkan saat ini adalah channeling, yaitu berkomunikasi dengan ras alien tertentu yang memang memilih manusia bumi tertentu. Manusia yang bisa bicara dengan alien disebut contactee. “Ada anggota kami yang bisa bertugas sebagai contactee," Ranggi menjelaskan. Tapi channeling ini tidak pernah dilakukan komunitas. Hasil channeling pun harus dikritisi dengan benar kesahihannya. "Bahasa yang digunakan biasanya bahasa dari ras alien tertentu atau dalam bentuk simbol yang universal," ujarnya.
Di luar aktivitas tersebut, BETA-UFO juga mengkaji penelitian-penelitian tentang alien. "Kalau untuk ini, Amerika adalah yang terdepan," ucapnya. Menyukai hal-hal tentang UFO, Ranggi melanjutkan, adalah hobi. "Dan hobi itu adalah sesuatu yang menyedot biaya," tuturnya. Apalagi kalau komunitas berencana menggelar ekspedisi. Seperti yang terdekat, bulan depan, BETA-UFO akan menyambangi komunitas serupa di Singapura dan Malaysia. Sebagian besar biaya harus ditanggung peserta sendiri.
BETA-UFO selalu menerbitkan laporan tahunan penampakan UFO di Indonesia. "Kan, banyak itu bentuknya ada piring terbang, segitiga, dan cerutu," ujar Ranggi. Laporan pun memuat, daerah mana saja yang paling sering disambangi UFO dalam setahun terakhir. "Salah satu UFO spot di Indonesia itu Dago Bandung," ujar dia. Analisis dari Bapak Ufologi, J. Allen Heynek, adalah UFO selalu mampir ke daerah yang kandungan airnya tinggi. Nah, Bandung itu dahulunya kan danau purba, jadi wajar saja kalau tetangga dari luar planet bumi ini rajin mampir. "Banyak yang percaya kalau Bandung itu stargate, Gerbang Bintang, atau portal gitu lah," kata dia.
Mengkaji tentang UFO, bagi Ranggi, adalah minat yang ditemukan sejak 2000. "Saya itu suka tentang ancient alien, jadi kebudayaan di masa lalu itu sebenarnya tidak lebih buruk dari masa sekarang, peradaban itu naik-turun," tuturnya. Setelah bergabung dengan BETA-UFO, ia menemukan bahwa UFO itu adalah kajian yang bisa dipelajari dengan banyak pendekatan. "Tapi kalau tidak hati-hati bisa menjurus ke ateisme," kata dia.
Beda pula dengan Rizky Afriono. Arkeolog ini menguraikan, ada banyak hal dalam kajian arkeologi yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah. "Seperti temuan reaktor nuklir yang usianya jutaan tahun. Itu buatan siapa?" kata pengurus regional Koordinator Investigasi
BETA-UFO Jabodetabek ini.
DIANING SARI
Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2013/05/17/108481093/Beta-UFO-Penggemar-UFO-yang-Serius
Add a comment Add a comment
Rasa penasaran masyarakat Indonesia terhadap mahluk angkasa luar sudah ada sejak lama.
KAMIS, 24 MEI 2012, 07:11 WIB Elin Yunita Kristanti, Amal Nur Ngazis
VIVAnews -- Para pemerhati UFO (Unidentified Flying Object) seluruh Indonesia dijadwalkan berkumpul di Jakarta pada malam hari ini. Mereka akan berdiskusi ringan tentang UFO dengan tajuk, "Menyingkap Rahasia Piring Terbang di Indonesia".
Diskusi ini menghadirkan Ranggi Ragatha selaku pengurus BETA UFO koordinator wilayah Indonesia Timur, Muhammad Irfan mewakili pengurus dan pendiri UFONESIA serta Alfi Zachkyelle, seorang komikus Vienetta dan animator Vatalla.
Diskusi tersebut merupakan kerjasama komunitas diskusi The B-Sides Discussion Club, BETA UFO dan UFONESIA.
Dalam siaran tertulisnya, Andyono Muharso, salah satu pegiat UFO mengajak para pemerhati dan pengamat dunia UFO untuk menghadiri pertemuan yang akan diselenggarakan di The Reading Room Cafe, Kemang, Jakarta Selatan, Kamis, 24 Mei 2012, pukul 19.00 sampai 21.00 WIB.
"Acara ini tidak dipungut biaya alias gratis," kata dia. Bagi yang ingin menghadiri diskusi ini diharapkan memakai busana kasual atau beratribut UFO.
Rasa penasaran dan ingin tahu masyarakat Indonesia terhadap mahluk angkasa luar sudah ada sejak lama. Salah satu yang mempercayai keberadaan mahluk cerdas di luar manusia adalah pendiri sekaligus mantan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Marsekal Muda TNI (Purn) Raden Jacob Salatun.
Pada tahun 1960, ia bahkan pernah menerbitkan buku berjudul, "Menjingkap Rahasia Piring Terbang". Juga buku, "UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini" yang terbit 1982 -- yang menceritakan pengalamannya menyaksikan benda bulat dan putih yang diduga piring terbang.
Selain itu, Salatun memperkenalkan istilah "beta" singkatan dari benda terbang aneh, sebagai padanan kata UFO dalam Bahasa Indonesia.
Hingga akhir hayatnya, pada Jumat 3 Februari 2012, Salatun tetap mempercayai keberadaan UFO. Oleh para pengamat UFO Indonesia, ia dijuluki sebagai Bapak Ufologi Indonesia.
Di luar Indonesia, salah satu usaha untuk menemukan UFO secara serius dilakukan oleh SETI (Searching for Extra-Terrestrial Intelligence).
SETI didirikan astronom bernama Frank Drake pada 1960, SETI telah beroperasi sejak lima dekade lalu. Mereka memindai sinyal radio dari luar angkasa, yang bisa memberikan indikasi bahwa manusia bukan satu-satunya mahluk yang hidup di alam semesta raya ini.
Sumber: http://teknologi.vivanews.com/news/read/316433-pengamat-ufo-kumpul-di-jakarta-malam-ini
Add a comment Add a comment
Singaraja (Metrobali.com)-
Empat hari terakhir suasana pantai di wilayah pesisir Buleleng, khususnya di sepanjang pantai yang ada di kawasan Kecamatan
Sawan hingga kecamatan Banjar mendadak geger. Ini terlepas dari munculnya sinar terang di tengah laut lepas yang sebelumnya tidak pernah dilihat warga. Beragam spekulasi pun muncul mengenai sumber sinar misterius tersebut.
Pantauan dilapangan di beberapa pantai di Kecamatan Sawan hingga Kecamatan Buleleng seperti di Pantai Sangsit, Desa Sangsit menunjukkan, sinar yang menyerupai sinar mentari saat mulai terbit ini mulai muncul ketika matahari mulai terbenam. Namun jika matarahari muncul dan tenggelamnya berada di arah timur dan barat, sinar ini malah muncul di arah utara atau di laut lepas sisi utara Bali ini. Sinar yang sekejap terang dan dalam sekejap pula redup ini memang sangat jelas berada jauh di tengah laut.
Koran ini yang beberapa kali berusaha mengabadikan gambar tersebut pun mengalami kesusahan untuk mencari focus sinar lantaran posisi sinar tersebut yang sangat jauh. Munculnya sinar misterius inipun akhirnya memunculkan spekulasi dikalangan warga yang menontonnya terkait sumber sinar tersebut. Sebab, beberapa warga mengaikan sinar tersebut dengan unsur mistis, namun ada juga warga yang menduga sinar tersebut berasal dari sinar api dari kapal yang tengah terbakar ataupun sinar dari kilang minyak di laut lepas yang mungkin terbakar.
“Sepertinya sinarnya berasal dari kilang minyak. Di tengah laut kan banyak kilang minyak,” celetuk salah seorang warga.
Sementara itu, Camat Sawan Gede Sandiyasa mendapatkan informasi jika ada nelayan dari wilayah pesisir Desa Anturan yang lantaran penasaran ingin tahu sumber sinar tersebut memilih untuk menuju langsung ke sumber sinar tersebut. Tapi usaha nelayan tersebut akhirnya sia-sia.
“Katanya nelayan itu sudah lebih dari 10 mil ke tengah laut menuju sumber sinar itu. Tapi kata nelayannya, sinar tersebut lokasinya masih tetap jauh. Makanya, kemungkinan sumber sinar itu berada diluar perairaan Buleleng. Kami sudah koordinasikan dengan Polair Polres Buleleng dan Dinas Perikanan dan Kelautan Buleleng untuk mengecek sumber sinar itu. Supaya warga tidak bertanya-tanya mengenai sinar itu,” kata Sandiyasa. ES-MB
Sumber berita: http://metrobali.com/?p=7214
Add a comment Add a comment
SABTU, 01 MARET 2008 00:00
(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Madina No. 3, Tahun 1, Maret 2008)
Ditulis oleh: Tim Administrator Madina Online
Bagaimana jika benar ada UFO, tanya Goenawan Mohamad di sela wawancara MADINA bulan lalu. Buyarlah semua pengetahuan kita saat ini, lanjut Goenawan. Saat itu, kami sedang mengobrol tentang berbagai masalah sosial dan keagamaan.
Kita sudah akrab dengan kemungkinan adanya makhluk luar angkasa. Sebagian orang malah lebih dari sekadar menerima kemungkinan itu, mereka aktif memburunya. Jangan kira mereka hanya sekelompok lelaki/perempuan yang tak merawat tubuh, berkaca mata, kurang kerjaan, kurang bermasyarakat, dan stereotipe lain. Para pemburu UFO, termasuk di Indonesia, datang dari berbagai kalangan. Kebanyakan adalah kaum profesional. Maklum, berburu UFO adalah “hobi” yang makan biaya: untuk mengumpulkan literatur ilmiah atau semi-ilmiah, mendatangi lokasi penampakan, mendokumentasi penampakan.
Pelopor penelitian UFO di Indonesia adalah Marsekal Muda TNI (Purn.) J. Salatun. Ia pernah jadi ketua LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) dan salah satu tokoh peneliti UFO dunia. Pada 1976, Prof. Dr. J. Allen Hynek (alm.) datang ke Indonesia. Menteri Luar Negeri kita waktu itu, Adam Malik, meminta Salatun jadi counter part Mr. Hynek. Salatun, walau tetap menggunakan istilah UFO dalam dua bukunya tentang benda misterius ini, mengusulkan istilah BETA (Benda Terbang Aneh) sebagai terjemahan UFO.
Istilah ini kemudian jadi nama sebuah organisasi penggemar dan penyelidik UFO, BETA-UFO (www.betaufo.org). Ini adalah salah satu organisasi UFO terbesar di Indonesia saat ini, didirikan pada 26 Oktober 1997. Organisasi ini didirikan oleh Nur Agustinus, yang sejak SMP sudah aktif mengamati UFO, dan pada 1979 mendirikan organisasi penyelidik UFO di Surabaya. Milis BETA-UFO punya lebih dari 750 anggota, aktif dan banyak dari mereka yang menampakkan kekayaan referensi sains populer. Sebuah diskusi tipikal, misalnya, spekulasi tentang asal-usul UFO sebagai berasal dari masa depan. Lalu, diskusi pun bergerak ke masalah teori perjalanan waktu. Pada saat yang sama, ada pembahasan persiapan “copy darat”, rencana berburu UFO, serta rencana pameran UFO di supermal Pakuwon Indah, Surabaya, 28 Februari-23 Februari 2008.
Sebuah benda hitam, seperti piring, melayang di langit siang bolong di atas daerah Buah Batu, Bandung, pada 19 Januari 2008, pukul 12.45. Benda ini terekam dalam sebuah handy cam yang tak stabil. Terdengar suara si perekam, sedikit menggerutu dalam bahasa Sunda, atas sukarnya merekam benda hitam itu. Video amatir penampakan ini diunggah ke youtube oleh seorang pemburu UFO bernama Oggie, dan diterbitkan dalam halaman UFO-Hunters di betaufo.org. Dalam halaman itu, Oggie juga mengunggah video penampakan UFO di Ciburial, 12 Agustus 2007.
Video kedua lebih stabil, namun benda yang terekam di langit nun di sana tak lebih dari sebuah titik putih di sela awan yang kemudian disusul sebuah titik hitam. Suara-suara takjub terdengar, beberapa lelaki, semuanya berbahasa Sunda. Terasa ada yang karikatural di situ. Tapi, video itu memang menampakkan sesuatu di angkasa sana, sesuatu yang tak terjelaskan. Intinya justru itu: tak terjelaskan. Namun, mengingat pengertian harfiah UFO adalah “benda terbang aneh”, maka bolehlah kedua titik itu disebut UFO. Perkara apakah itu pesawat angkasa dari planet lain, kita tunda dulu.
Kok UFO sempat-sempatnya menampakkan diri di atas Buah Batu dan Ciburial, Bandung? Ternyata, menurut catatan komunitas Beta-UFO, Indonesia cukup sering mendapat penampakan UFO. Ada 245 penampakan yang mereka catat hingga akhir Februari 2008, jika menghitung sejak penampakan saat Krakatau meletus hebat pada 1883 hingga kesaksian Irwan Khouw dari Mega Kuningan, Jakarta Selatan, pada 31 Januari 2008, yang menyatakan melihat sebuah titik di langit merah Jakarta yang berwarna oranye dan menghilang di balik awan.
Lokasi penampakan juga cukup beragam: Jakarta, Bekasi, Bandung, Yogyakarta, Jepara, Semarang, Desa Antan Kalimantan Barat, Dieng, Riau, ladang minyak lepas pantai Cimalaya, dan lain-lain. Tentu, banyaknya penampakan itu menerbitkan tanya tentang kesahihan gejala-gejala itu. Para pemburu UFO ini sendiri, seperti terlihat di situs Beta-UFO itu, tampak berupaya menyusun mekanisme penyaringan fakta yang ketat. Misalnya, mereka menyebutkan berbagai gejala salah lihat, salah duga, bahkan tipuan.
Misalnya, disebut 14 kemungkinan gejala non-UFO yang lazim disangka UFO. Termasuk yang sering orang keliru menyangka melihat UFO adalah melihat meteor, balon udara, atau kunang-kunang mata sendiri! Catatan itu dilengkapi contoh-contoh kasusnya segala. Misalnya, kegemparan di Padang pada 28 Maret 2006, pukul 20.00. Penduduk menyaksikan bayangan-bayangan putih melesat ke awan. Setelah timbul banyak dugaan, termasuk bahwa itu adalah pesawat angkasa asing, baru pada 4 April 2006 misteri terjawab. Padang Ekspres mengungkap bayangan-bayangan putih itu berasal dari tembakan lampu laser 4000 watt di puncak sebuah bukit di Sawahlunto.
Walau ada upaya penyaringan begitu, yang skeptis tetaplah banyak. Sebagian menyebut UFOlogi sebagai sains semu (pseudo-science). Edna DeVore, direktur pendidikan SETI (Search for Extra-Terrestrial Intelligence, sebuah usaha teroganisir untuk mendeteksi adanya kehidupan di angkasa luar), misalnya, menggolongkan UFOlogi sebagai sains semu. Mark Moldwin, ahli studi luar angkasa UCLA (University California Los Angeles), membedakan SETI dan UFOlogi.
Menurut Moldwin, SETI adalah bagian dari komunitas astronomi dan astrobiologi, dengan tujuan menyelidiki asal-usul kehidupan di alam semesta. Ketiadaan temuan makhluk angkasa oleh SETI tetap membawa keuntungan bagi perkembangan sains, lanjutnya. Sedang UFOlogi tak jadi bagian komunitas ilmiah apapun, dan hasilnya (bahwa alien telah mengunjungi bumi) tak membawa keuntungan apapun bagi sains.
Fan Fan F. Darmawan, staf pemasaran kelompok penerbit Mizan yang aktif di BETA-UFO dan mendirikan Grey Race Foundation, berpendapat lain. Hanya karena temuan atau teori UFO “belum nyata” menurut sains yang ada saat ini, bukan berarti UFO tak ada. Baginya, UFOlogi termasuk “sains masa depan”. “Ingat,” katanya, “kita tak boleh menutup mata akan kemungkinan sains di abad mendatang, yang akan sama sekali mengubah wajah peradaban manusia.” Dengan kata lain, UFOlogi berurusan dengan kemungkinan.
Masalahnya, banyak kemungkinan yang ditawarkan UFOlogi kontroversial. Misalnya, soal agama. Erich Von Daniken, dalam Chariots of God?, melemparkan teori bahwa asal-usul peradaban manusia –termasuk agama-agama, adalah astronot ruang angkasa yang turun ke bumi dan membidani kelahiran peradaban-peradaban kuno kita. Walau Daniken kini relatif tak dikenal, kata Fan Fan, tapi teorinya “bocor” dalam berbagai produk budaya pop di sekeliling kita. Misalnya, dalam film-film seperti Stargate dan Alien vs. Predator.
Fan Fan tegas berpendapat, “Tidak ada yang berbenturan antara penelitian eksistensi UFO dan agama Islam, atau agama apapun yang eksis saat ini.” Bagi Fan Fan, sebagai muslim, ia harus menyandarkan apapun pada Al-Quran dan hadis. ”Tapi,” lanjutnya, ” perlu dipahami bahwa Al-Quran tidak bisa kita bebani tanggung jawab, untuk menjawab semua hal teknis, seperti halnya kita membuka Ensiklopedi Britanica atau Wikipedia.” Menurutnya, ada ruang cukup luas dalam Islam untuk merenungi alam semesta dan berbagai kemungkinannya.
Misalnya, ayat Al-Quran 42:29, memuat kata dabbah. Secara resmi, kata ini diterjemahkan ”binatang melata” atau ”makhluk hidup”. Bunyi ayat itu: ”Dan di antara ayat-ayatNya adalah menciptakan langit dan bumi. Dan dabbah yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki.” Al-Quran menyebut langit dengan kata jamak, samaawat. Apakah ini berarti isyarat tentang lapis-lapis langit? Ataukah berarti planet-planet atau galaksi-galaksi? Pernyataan bahwa Allah menciptakan dabbah yang Dia sebarkan di langit-langit, apakah itu isyarat akan adanya makhluk asing di angkasa luar sana?
Kemungkinan tafsir ini pernah dikenalkan oleh Dedy Suardi, dalam Tafakur di Galaksi Luhur (1989). Tentu saja ini menyempal dari arus utama tafsir yang memahami ayat itu sebagai pernyataan tentang adanya malaikat dan jin di langit surgawi. Tapi, seperti kata Fan Fan, spekulasi mutakhir tentang makhluk angkasa luar juga mencakup kemungkinan bahwa mereka adalah ”entitas spiritual”. Jika itu disebut jin, kata Fan Fan, maka mungkinkah definisi ”jin” juga mencakup makhluk asing yang memunyai teknologi penerbangan lintas planet?
Kalau alien adalah juga jin, maka mereka (menurut Islam) terkena juga dong, kewajiban ibadah? Nah, jangan-jangan (kalau benar) mereka sering datang, karena diam-diam mereka akan naik haji ke Mekkah, lalu sekalian pelesir ke Texas atau Dago, Bandung.*
Sumber: http://www.madina-online.net/index.php/khazanah/peradaban/290
Add a comment Add a comment
Femina.co.id, 21 Nov 2011
Fenomena tentang UFO (Unidentified Flying Object) selalu menarik. Hal itulah yang akhirnya membuat sekumpulan pencinta dan pengamat UFO yang tergabung dalam forum diskusi di milis Friendship (di provider internet Centrin) dan Nusa X-Files (di NusaNet) memutuskan untuk mendirikan BETA-UFO (Benda Terbang Asing-Unidentified Flying Object) pada 26 Oktober 1997. “Tujuan kami, mendata penampakan UFO di Indonesia, lalu mempelajarinya,” ungkap Bayu Amus, ketua sekaligus salah satu pendiri.
Anggotanya beraneka ragam. Ada yang pelajar SD, sarjana, lulusan S-3, ada juga dari kalangan militer. Kegiatan rutin BETA-UFO tak hanya diskusi online setiap hari di mailing list, facebook page dan group, twitter (http://twitter.com/betaufo), serta website (http://beta-ufo.org), tapi juga temu muka tiap tahun, biasanya di Jakarta. “Selain itu, banyak pertemuan informal antaranggota untuk membahas tentang ufologi (ilmu yang menyelidiki fenomena UFO). Topik disesuaikan dengan kejadian di daerah masing-masing,” tutur Bayu, staf di perusahaan pengembangan software komputer.
Para anggota biasanya membahas peristiwa penampakan UFO terkini, bersama menyaksikan rekaman penampakan UFO, mendengarkan penuturan saksi penampakan UFO. Semua itu berlangsung dalam suasana santai dan hangat. Serunya, mereka pun melakukan investigasi lapangan. “Misalnya, peristiwa jatuhnya meteor di Duren Sawit, Jakarta, 2010. Juga fenomena crop circle yang muncul di daerah Yogyakarta, awal tahun 2011,” kata Bayu.
Tak mau sekadar main-main, komunitas ini membentuk 3 divisi untuk melakukan penelitian. Yaitu, Tim Investigasi Lapangan, yang bertugas meneliti dan mengumpulkan bukti di lapangan pada kasus-kasus penampakan UFO dan fenomena yang berkaitan. Lalu ada Tim Analisis Laporan Penampakan UFO yang menelaah laporan tulisan, video, foto, dan hasil rekaman wawancara dengan saksi mata perjumpaan dengan UFO. Ada juga Tim Standarisasi, yang menciptakan standar panduan, dan membakukan proses kerja yang berhubungan dengan investigasi UFO. “Dari situ kami bisa mengambil kesimpulan keaslian peristiwa. Apakah lemah, meyakinkan, atau malah direkayasa alias hoax,” tutur Bayu, serius.
“Melalui BETA-UFO, banyak sekali saksi mata penampakan UFO yang akhirnya berani untuk muncul dan menceritakan pengalamannya. Termasuk, pengalaman diculik alien,” lanjut Bayu. Setidaknya, ada 11 kasus yang tercatat di database BETA-UFO yang bisa dibaca bebas di website komunitas. Yang paling terkenal adalah kasus Sudjana Kerton (almarhum), seniman dari Bandung yang mengaku kedatangan sebuah piring terbang dan dibawa masuk tanpa bisa melawan oleh dua makhluk mirip robot setinggi 95 cm, tahun 1979.
Dan yang terbaru, penuturan Gatot Tri R. yang mengalami kejadian di-‘teleport’ masuk pesawat angkasa asing pada tahun 2004. “Kami memang sering disepelekan oleh mereka yang tidak percaya. Tapi, data-data yang berhasil kami kumpulkan memang menjurus pada bukti bahwa fenomena UFO itu nyata dan global,” beber Bayu. (f)
Sumber: http://www.femina.co.id/isu.wanita/topik.hangat/serunya.berburu.ufo/005/007/40
Add a comment Add a comment
Artikel yang dikeluarkan BETA-UFO sebagai edaran bagi masyarakat umum, umumnya berisi mengenai pernyataan BETA-UFO terkait suatu topik permasalahan.